Kemari aku pelukkan pundakmu
dengan dekap mimpi paling tinggi
dan kenalkan cinta ini semacam langit
bersih dan cerah waktu siang
dan, lelas rambut biar aku sisirkan
dengan jemari kasar yang selalu
mengupil duri pada awan munggil,
semacam pipi dan selembut tiap
benang rambut ini.
Dengarlah, aku ini yang dungu
membentang tujuh jambatan pelangi
jadi alas tiap rindu pada telapakmu
jangankan terluka pada jejak
kepada setiap inci harap ini.
Pandanglah, aku masih berdiri
di depan pusara tempat kau senyap
waktu langit cerita kita ribut.
Aku yang hilang, cuma punya
hujan untuk jadi kawan
dan kamu yang pergi.
Apunpital
00:50 am
10-11-2008
kazamidori-saitama
pusara
Posted by
apunpital
November 10, 2008





0 comments:
Post a Comment