Ke manakah larimu
~~~ Sejauh dari sebatu-batunya
~ Dari sebentuk kerikil yang enggan berderai
~~ Berkecaikah, seakan ais kecil pada telapak ini
Berkecaikah?
Ke manakah larimu
~~~ Sejauh dari sebatu-batunya
~ Dari sebentuk kerikil yang enggan berderai
~~ Berkecaikah, seakan ais kecil pada telapak ini
Berkecaikah?
apa yang kau perolehnya?????
semalam yang pincang lagi kau rosakkan,
Labels: ayat
dia yang bernama aku..
bukan kah telah jauh tertinggal..
juga telah lama tertanam.
kenapa mahu lagi kau gali .
kenapa mahu lagi kau kembali ..
dia yang bernama aku..
bukan lagi ada dalam liang lahad yang kau korek dulu
bukan lagi dalam dalam liang jasad yang kau kenali dulu,
kau tahu..
dia yang bernama aku.. bukan lagi untuk kamu,
Labels: puisi
Labels: puisi
Tak datang,
____belum kembali,
Nafasmu sehela tak terasa,
_______Kilasmu semalaman tak teraba,
Darahku hilang merahnya,
___________Rambutku jelang putihnya,
___Tanpamu,
Semalaman berpEsTa,
________________Sambut kematian,
__Jauh pedalaman jiwa.~
Labels: puisi
Jangan pernah merayu,
Akan aku bakar sampai tinggal debu,
Akan ku bakar sampai sehitam baru,
Dan tulang-belulang yang jadi isi mu,
Bakal jadi nisan pacak atas hangus mu,
Pergilah mampus,
Tak akan ada sedih melihat kau pupus,
Tak akan ada pedih melihat kau hangus,
Jangan sekali merayu,
Dengan rakus aku akan ragut,
Nyawamu yang tinggal seciput,
Menghapus roh mu yang perit mengumbut,
Pergilah mampus,
versi kasar :: nak tukar versi lembut, tukar jer "pergilah mampus" kepada "pergilah hapus"
:: percubaan menulis angin baru ~~ lala~
Labels: puisi
Labels: ayat
Labels: ayat
you can go if u want tobut dont ever turn back to me
you can fly if u have tobut dont ever fall down to here again
Labels: ayat , poem / quote
Kelmarin,
Ada ribu-ribu kuning,
Juga biru-biru dinding,
Yang bertahan-bertahanlah,
Provokasi dimanipulasi,
Demokrasi diderai,
~zinggof n layla handmade~
~puisi duet pertama~
Semalam yang terbakar,
Penuh gumpal-gumpal asap pada lelangit gelap,
Menutup ruang untung bintang,
Mengatup ruang untuk bulan,
Angin yang menderu,
Bahang yang mendera,
Kadar bayu sedang selimut lecur,
Lerai kulit jadi helai-helai hancur,
Keliling lebur,
Api bertabur,
Mata kabur,
Semalam yang terbakar,
Masihkah? Selamatkah?
Labels: puisi
Semalaman tanpa lelap,
Anak mata yang lelah,
Warna putih sedang kemerahan,
Bisa pada kepala, enak meratah,
Mimpi-mimpi mula meratap,
Tiada resah,
Tiada gundah,
Insomnia malam ini,
Esoknya pasti luluh
Labels: puisi
Kalaulah ada doa yang paling makbul,
Aku pohon kembali ke jasad asalan,
Kalaulah ada impian paling unggul,
Aku pohon pulang ke jiwa tinggalan,
Menjejak hari-hari paling tumpul,
Mencari jejak-jejak susur karutan.
Penat untuk menari atas pentas dungu,
Berat untuk menari dalam pakaian palsu,
Kesat untuk menari dengan aku yang tipu,
Berapa harga untuk kembali?
Berapa juga harga untuk miliki?
Berapa denda untuk kesali?
Berapa dosa untuk sejauh sesat ini?
Ya Allah,
Izinkanlah sekali untuk pulang ke jalan itu,
Benarkanlah sedikit untuk padam parut ini,
Bukakanlah seselit untuk lolos ke pintu itu,
Kalaulah ada doa paling makbul,
Ada impian paling unggul,
pinta aku dikembalikan, semula
Labels: puisi
Membanting dunia ke sisi,
mencanting tanah dengan darah,
menggunting angin dengan serakah,
itu kami bukankah,
malas mencari dalam tiap ikat,
terus angkat keringat jadi azimat,
jadikan sekain konon berkat,
itu kami bukankah,
penuh hitam warna cacat,
tepu dengan pekat lahanat,
inilah corak unting keringat,
milik kami jugalah,
kosakata bohong,
peribahasa rompong,
entah apa ada selain ketiadaan,
Labels: puisi
Bila kepak dan pelepahnya berguguran,
Ada apa bawa jasad berterbangan,
Bila tulang dan sendi tercabutan,
Ada apa bawa badan berjalan,
Mana pegi gebu mungil awan,
Mana hilang luas biru lautan,
buat aku tahan dari jatuh luluh,
buat aku tahan dari hati luruh,
aku siapkan kepak kesetiaan,
bukan niagaan, tiada tukaran,
bukan pinjaman, tiada raguan,
untuk bukan diselubung curang,
bukan dibuat barang dagang,
isinya tiada yang jalang,
kenapa tetap di hati berkapang,
kosongkah hati puteri untuk fahami,
kosongkah hati puteri untuk mengerti,
engganlah angin, seganlah bayu,
yang aku pingin, paling berlalu,
temani dingin, lemah layu,
yang aku ingin, diam kaku,
bila segalanya engkau endah,
bila semuanya jadi muntah,
bila bunganya kadar ludah,
bila sanggarnya runtuh punah
ada apa tinggal bawa aku terbang,
ada apa kuasa bawa aku berjalan
a:p:u:n
aku siapkan kesetiaan,
bukan untuk dibayar curang
Labels: puisi
pergilah, terbanglah,
lepaskan aku dari bayangmu,
bebaskan aku dari kepakmu,
bukankah itu nafsu mu?
bukan itu yang aku mahu.
Terbangkan ke taman syurga,
Layarkan ke sungai cinta,
Menggoda ke hujung muara,
Menunggang ke puncak dunia,
tegahanku kau cairkan,
rayuanku kau abaikan,
pertahananku kau robohkan,
kawalanku kau longgarkan,
engkaulah teman, engkaulah syaitan,
dara kau pecahkan, benih kau tanamkan,
bila perut jadi bulan, semua kau tinggalkan,
wahai si bangsat,
apa mahu kau selamatkan dengan tangan pendekmu?
apa mahu kau padamkan dengan peluh hangitmu?
apa mahu kau bawakan dengan serakahmu?
Inilah harga cintaku,
Rendamkan aku dalam lautannya,
Biarkan saja aku mati kelemasan,
bakarkan aku dalam nyalaannya,
tinggalkan saja aku mati kerentungan,
Labels: puisi
Selamat hari jadi wahai si kamu,
bicarakan niat besarmu,
bacakan keratan mimpimu,
khabarkan selaut hendakmu,
bayangkan warna indahmu,
hari ini milik kamu,
selamat hari jadi wahai si kamu,
ada bulan jadi kek bulatmu,
ada bintang jadi lilin kecilmu,
ada bayu jadi nafas pendekmu,
ada daun jadi tamu partimu,
ada embun jadi ratu tarimu,
ada unggas jadi lagu serimu,
ada hujan jadi peluh dahimu,
malam ini untuk kamu.
selamat hari jadi wahai si kamu,
sediakan perkakas,
ada angin bakal mengisi,
siapkan bekas,
ada dingin bakal memeluk,
malam ini bersama kamu
selamat hari jadi wahai si kamu
tidak perlu berdiri dengan sepi dan sendiri,
tidak perlu menanti dengan gigil dan kebil,
mari tiup bintang malam,
mari kerat bulan kelam,
mari sambut dalam diam,
malam ini hadiah kamu.
niGht alOne oN 8th OCt 2007
Menunggu pada hujung muara,
bagai pangkalnya hilang,
menanti sayang yang tiada,
bagai akalnya hilang.
berjalan ke kaki pelangi,
tiada lelah penatnya,
bertatih ke pintu hati,
tiada susah pernahnya,
Labels: puisi
Bisa kau berlari lagi?
sedang pada hujung kaki,
bertatah arang berbara,
meratah telapak kecutmu,
bisa kau berlari lagi?,
sedang serpih yang dipijak,
menari tiap ganjak,
mengguris daging lembutmu,
bisa kau berlari lagi?
sejauh mana lagi mahu mu,
menapak riasan api,
mengorak hirisan duri,
bisa kau berlari lagi?
hujung dekat jalan ini,
ada lembut pada jejak,
ada sahut lagu belas,
ada sangkut ibu emas,
ada Dia menunggumu,
melihat, dan menanti,
sejauh mana bisa kau berlari.
Labels: puisi
| memerlukan rakan, yang mampu mendengar, dan sanggup memberi tangan, saat jauh...tika jatuh... frenz, is to be hold, and to be support, kawan, mampu memberi, dan menanggung, rasa sayang, friend is "loving but not couple", sahabat, adalah orang yang ada di sisi, saat sepi dan happy, sahabat, tak kan mati, walau bertikam lidah, sampai mencengkam jiwa, rindu saat hilang, sayang saat terang |
Labels: poem / quote , puisi
| mampir aku mati, kapan lagu itu terdayu, ada dendang kelu kelabu, ada dondang haru celaru, tika masih, terkedek dekat titi kedidi, ada retak pecah merubah, ada celah selak merebak, tika masih, terkedek dekat celah keladi, ada riak derai merenang, ada alun pecah membias, kapan lagu itu terdayu, tenggelam terus bawah angin layu, terceruk jerlus dalam air sayu, mampir aku mati, |
Labels: puisi
| ada sisa-sisa terbaki, pada ludah yang tersangkut, ada bisa-bisa tercaci, pada resah yang terangkut, bisakah tenggelamkan kekalutan, pada basah peluh keributan, bilakan tenggelam kekarutan, sedang helah puluh serabutan, siapkan kata sial, bangatkan kata bangsat, lancarkan kata lancau, sedang bangsa kamu masih terkial-kial, menari-nari di tepi kapal, menarik-narik di hujung bebal, bisakan tenggelam, biarkan tenggelam. |
Labels: puisi
| pingin aku lari searus air, bawa sepasir dari hulu, bawa setanah ke hilir, ada luka pada lara, ada bara pada saka, biar tekad tak seaur tebing, biar nekad tak sekulit kuku, biar aku, lepas aku, tinggal aku, terperusuk celah pelangi, terceruk celah mentari, pingin aku terbang selagu bayu, bawa sekepal dari timur, bawa segumpal ke barat, |
Labels: puisi
Aku ingin menangis,
biar sebentar,
biar setitis,
Aku ingin menangis,
bawah bulan gelap,
dengan rintik malap,
Demi langit,
cintaku mati saat ini,
Demi hujan,
hatiku kunci saat ini,
Demi kamu,
izinkan aku menangis,
bersama mendung gelap.
sedutan TAM-keratan ke-2 (edited) sila ke kapasitor untuk membaca
Labels: puisi
Dan aku berdiri,
Menunggu angin mu meniup sisi-sisi ku,
Rentak mu, mematah dan meratah,
Tersangkut di kail luka,
Terangkut di jala duka,
Menunggu angin mu meniup sisi-sisi ku,
Hunuskan pedang dari bidadari,
Hunuskan terus ke titik mati,
Dan tidak aku berdiri terus.
a:p:u:n~~tuhan izikanlah aku
Labels: puisi
selamatkan aku..aku merayu.
dahagakan darah dari syurga.
suapkan ke ceruk hati.
serapkan ke hujung kaki.
aku rimas..aku lemas..
mandikan aku darah dari syurga,
basahkan aku dengan cinta,
bersihkan aku dari gila,
bantu lah aku,,,
lena ku didodoi sepi
lena ku dibuai keji,
lena ku diselimut api..
aku dahaga…tolonglah aku..
secangkir…darah dari syurga,
dalam hati yang kontang,
dalam jiwa yang gersang,
aku makin hampir terlena,
suapkan aku darah dari syurga..
setitis dalam hujan dosa..
aku lencun dek dia..
TOLONG!!!!
a:p:u:n ampunkan aku Ya Allah
penerangan available....click here
Labels: puisi
tekanan membukit...
bakat serba sedikit...
punca yang hangit...
idea yang sakit...
macam bulan penuh...tapi gerhana
macam keris merah..namun karat
macam mata biru...namun tembel
macam pembela...namun memberontak
baru kena gelitik ..sudah melatah..
baru tahu merangkak..ingin berkepak..
baru kenal tempurung..mahu tempayan..
terus...
mencuri, merobek, meludah, mencabul,
serupa air sungai Kelang,
macam emas dari Chow Kit Road...
tak lupa, apek Pertama Kompleks,
juga...semi-wanita belakang Jalan P.Ramlee
harga sekupang...
nah...
bila mahu reformasi...
terjerit-jerit macam babi kene JE
terkedek-kedek macam ayam kene H5N1..
macam tikus-tikus kena denggi..
ya.. tikus!
datang lima tahun...
bila lubang mahu kambus..
sebok berdecit, sebok menggigit,
datang lima tahun,
bila sarang mahu tukar,
sebok, sebok, sebok, dan...sebok
sebok main lumpur..
sebok kumpol tahi..
sebok tambah berahi,
sebok bercakap maggie,
tikus, oh tikus..
sebok dan sebok dalam sarang..
kalaulah datang u.s.a.w.a. yang sial...
uh..harap janganlah,
ya Allah, elakkanlah...
ya Ghaffaar, ampunkanlah...
ya Waliyy, lindungkanlah...
nah, bila mahu reformasi,
tak perlu tambah api, sudah cukup panas
tak perlu tambah cili, sudah cukup pedas
Labels: puisi
Harap, jiwa itu tahu
rindu yang kita garap
bukan untuk tontonan mata sang beliung
atau sekadar picisan di kaki enam
atau sekadar duduk di dimensi yang hilang
bukan sekadar dimamah hati yang pilu
tapi untuk digusari.
Kerana kita rindukan kalimah itu ada di atas
bukan mereka terus menindas
harap mereka sedar
yang doa kita bukan tidak dimakbulkan
tapi sedang dikumpulkan
saat,
suatu masa telah cukup,
langit dan bumi terus memendam rasa
biarkan, biarkan,
yahudi dan nasrani itu,
peroleh hidayah atau memeluk padah,
atas bumi Allah.
LAILAHAILLAH
Mereka belum puas,
selagi mereka tidak dicantas
Bangun
jangan tidur dalam bumi yang diperhati.
jangan tidur dalam mimpi yang sepi.
puisi ni ditulis dekat comment page friendster pada 8/9/2006
puisi saguhati sayembara puisi islam GKLN
Labels: puisi
Bila cinta pun tak mampu disayangi,
apatah lagi untuk merinduimu.
Bila cinta pun tak mampu dijujuri,
apatah lagi untuk mempercayaimu,
Bila cinta pun tak mampu dilindungi,
apatah lagi untuk menaungimu,
Bila cinta pun tak mampu dikelek,
apatah lagi untuk menyanjungmu,
Sudah cukuplah cinta kecewa,
cukuplah cinta terluka.
Lepaskan ia, bebaskan kita,
Bila cintapun tak mampu menyatukan kita,
apa lagi yang kau tunggu?
Labels: puisi
Pegang erat tanganku,
genggam kuat jemari ku,
kuncikan telapak tangan,
kerana kita bakal ke sana,
tenangkan atur nafasmu,
longgarkan sendi-sendimu,
tutup anak mata mu,
kerana kita akan ke sana.
syyy…jangan masih berbicara,
bertanya dan terus bertanya,
mengapa? Bila? Siapa?
ke mana? Berapa? Bagaimana?
aku tiada jawapannya,
kemari dan bersamaku,
bawa seluruh tubuhmu,
yakin pada ku,
aku ku bawa kau ke sana,
injakkan kakimu,
bebaskan semua belenggu,
mari ke awan biru,
terbanglah bersama ku.
Labels: puisi
Mawar dan ros di telapakku,
Kekasih..
Yang mana harus tersunting ke rambut mu?
Kemari dan pilihlah..
Yang mana milik kita?
Mawar dan Ros,
hanya kuntuman bunga,
sama kelopaknya,
Tiada bercanggah selain nama,
Tiada berbeda selain nama,
Tiada berbeza selain nama,
Yang mana tertanam dalam qalbu mu?
daku biarkan di sini,
bebaskan hatimu bertingkah,
biarkan akalmu bertelagah,
yang mana bakal di jemari mu?
Mawar dan ros,
hanya kuntuman bunga,
sama kelopaknya,
merah dalam jambangan,
gah dalam suntingan,
indah dalam pandangan,
Yang mana menguntum di qalbu mu?
“mawaddataani 'alal kaffi,
azzizati,
Ayyu fi qalbuki?”
Labels: puisi
1
Satu ratus sepuluh hari..
Aku dan penantian…
Satu ratus sepuluh hari..
Aku dan kesepian..
Tahukah kamu?
Serupakah kita?..
Atau hanya aku yang merasa?
Satu ratus sepuluh hari…sendiri
Satu ratus sembilan malam…
Aku di sini…
Menanti hati yang belum pulang lagi..
Satu ratus sembilan malam..
Aku lihat kamu…
Sayup dalam bait-bait mimpi..
Berlari-lari dengan hatiku yang kau pagari..
Satu ratus sembilan malam..
Aku tersesat
Dalam selaut madu fantasi….
Aku terjerat
Dalam jutaan saki-baki memori..
Fahamkah kamu?
Samakah kita?
Atau hanya aku yang terseksa?
Satu ratus sembilan malam…sendiri
Satu ratus sepuluh hari..
Berdiri di sisi mentari..
Tanpa beralas jalur-jalur pelangi…
Satu ratus sembilan malam..
Bermimpi di sisi rembulan..
Tanpa berpagar kerlipan bintang..
Kamu dan aku…
Terus jauh dan jauh..
Terpisah dek celah benua…
Rasa dan rindu…
Makin berat dan berat…
Tertarik dek renggang masa…
Ini kisah satu ratus sepuluh hari..
Kisah sebuah hakikat berduri…
Hakikat..kamu dan aku…
Terpisah dalam gundah,
Resah bersadur gelisah..
3
Bagai memijak batu hangat..
Terbakar seluruh jiwa..
Air diminum terasa duri..
Nasi dimakan terasa sekam..
Satu ratus sepuluh malam sudah..
Tidur berbantal sendu..
Baring berhampar rindu..
Didodoi siulan kaku..
Sengsara seluruh raga...
Seratus sepuluh hari...
Aku inginkan kamu..
Perjatian balam padi rebah
Akanku luruti rambutmu dengan kasih..
Bak kasihnya akar pada tanah…
Akanku sarungkan jarimu dengan sayang…
Laksana sayangnya pasir pada pantai…
Akanku pakaikan kamu dengan cinta..
Segah cinta awan pada langit..
Sesetia aur pada tebing…
Seratus sembilan malam..
Aku, nantikan kamu..
Jantung hati, ratna pakaja..
Buaikanku dengan bayu,
Selimutkan aku dengan salju,
Lenakan aku dengan syahdu..
4
Cinta kamu..
bagai titip atas pundak..
Biar mengumbut nyawa..
Tetap ku pasak dalam nadi..
Inilah manikam, inilah kencana..
Inilah senam cintaku..
Seratus sepuluh hari ku kemam dalam dada..
Seratus sepuluh malam ku anyam dalam jiwa..
Selagu dengan ratib jantung..
Senada dengan zikir nafas..
Agar bersepuh tidak jua..
Satu ratus sepuluh hari terduga..
Satu ratus sembilan malam tiada bersua…
5
Satu ratus sepuluh hari..
Aku karangkan satu ratus bait..
Aku kaitkan benang cinta.
Aku taburi dengan kelopak rindu..
Walau tak seindah jambangan mawar
Tak seindah sulaman emas…
Juga tak semerbak kasturi…
Inilah senam cintaku..
Kalau hanya satu ratus sepuluh hari..
Kalau aku tiada esoknya..
Tetapkan aku di sisi..
Temani kamu selama pasti..
Biar jasad tertanam dibumi..
Namun semangatku tertanam di sini...
Samakah kita..?
Atau hanya aku yang merasa?
Satu ratus sepuluh hari…sendiri..
Labels: puisi
CARLDENA
Mohd Safwan bin Fital
aku ulis nih time f4 kot. nih pon seb baik akak aku jmpa dalam comp.. thanks angah.. woHhOo ok...enjoy ah cerpen yg aku paling suke ni..
carldena=nick name akak angkat aku time skolah dulu..akak..pinjam nama ek.. haha
PROLOG
“Dia diciptakan dengan raut wajah yang gamat susah untuk ditandingi. Tuhan hidupkan ia dengan penuh kelebihan tanpa kerisauan, tanpa kesusahan. Hidupnya cukup terang untuk menghadapi malam-malam yang bakal diharungi. Dia langsung tidak pernah memikirkan hari depan yang sangat kelam dimana menenggelamkan dirinya dalam kekalutan. Tanpa asas yang kukuh dia belum tegar untuk menghadapi gigitan semut sekalipun. Jika badai sengsara melanda dirimu, Carldena, aku yakin kau akan hancur luluh di atas bumi ini. Maka, hadapilah bara-bara kehidupan itu…”
PERMULAAN
“Langkahan Carldena suram, sesuram pantai tanpa ombak. Acap kali kakinya terangkat, seakan terhiris perutnya. Pantas tangannya mencengkam di perutnya. Carldena mengeluarkan sesuatu dari poket kecilnya lantas digumam dalam mulut. Menyesal. Semuanya tidak akan berada di dimensi ini. Terlalu menyeksa. Kalau mampu diputar kembali roda masa, ingin saja Carldena menukar nama bapanya. Mengukir nama lain di atas helaian sijil kelahirannya. Carldena Amira binti Tan Sri Farizul Akmar. Tan Sri yang membawa malang. Egonya mengalahkan ketinggian Menara Kuala Lumpur. Sehinggakan ketika arwah ibunya (nenek Carldena) dijemput Izrail, dia bagai menjenguk di balik tingkap. Bagai Si Tenggang yang lebih munafiq, pulang ke kampung pun seperti menarik paus ke darat. Masakan kakinya seronok bersila, memegang Yaasin tatkala hari belasungkawa itu. Batunya Si Tenggang kerana memperihalkan ibunya seperti batu, dicampak sesuka hati. Untuk Tan Sri yang memperihalkan jenazah ibunya bagai sampah di tepian longkang, matinya Tan Sri bagai tikus yang di lenyek-lenyek. Jijik. Sedangkan malam itu, Tan Sri amat gembira, berderai tawanya di dalam kelab malam. Tangan kanannya merangkul GRO, tangan kirinya menyangkut sebotol wain putih, dilambung-lambung tinggi. Akhirnya dia yang melambung keluar dari Peugeot 307 SW. Dalam perjalanan pulang, kereta mewahnya hilang arah, sebelum tersasar keluar dari jalan utama. Mabuk.
Carldena memicit perutnya dengan lebih kuat, amat menyakitkan. Fikirannya buntu untuk mengimbas semula, mungkin kerana terlalu sakit, ataupun jiwanya meronta. Tidak sanggup membayangkan posisi ayahnya, kakinya tersepit di dalam kereta manakala sebahagian badannya terkulai mabuk di bonet hadapan. Darah berlumuran dari rambut, mengalir ke hujung kaki. Keadaan yang begitu genting menyukarkan kerja menyelamat, tambahan pula minoriti kereta tersebut telah menjunam ke dalam loji kumbahan dan perlu diangkat menggunakan kren. Nadi Tan Sri masih terus berlagu. Dengan pantas segala kompenen kereta dicabut untuk memudahkan Tan Sri keluar. Namun kakinya tercatuk di situ. Melekat bagai ditarik magnet. Bingung merasuk ke segenap kepala yang memerhati. Puas ditarik, diusahakan agar Tan Sri keluar dari kereta. Tapi, Tan Sri langsung tidak bergerak. Terdiam, perlahan air matanya menitis melihat Izrail di hadapannya. Panas, haus semuanya bergolak sebelum Tan Sri menjerit tika kereta tersebut meletup.
Tersentak, Carldena bagai terdengar bunyi letupan itu. Dia sendirian merasai kepanasan yang tidak terhingga. Pantas manik-manik peluh di wajahnya diseka. Kesedihan terukir di situ. Wajah yang dahulu comel, rambutnya mengurai lembut turun ke mata yang perang, terus ke hidung yang mancung bak seludang, berakhir di bibirnya yang nipis, sudah hilang serinya.
Tangannya masih mengusap muka, di bawah mata yang berair, di tepi hidung yang kemerah-merahan. Semuanya telah hilang, yang putih jadi hitam yang ceria, kelam terbang ditarik sejarah.
‘Tap!’ Carldena tersentak, bahu lembutnya disentuh orang. Lantas dia berpaling, seorang lelaki berdiri di belakangnya. Dia kenal wajah itu. Dia juga benci wajah itu. Benci, sama bencinya dengan wajah wajah Pak Tam, Pak Long, Mak Ngah, Busu Lea, Auntie Sarah, Uncle Am, semua bersilih ganti. Dia jadi tak keruan. Dalam jiwanya bagai dilanda badai yang tidak berhenti. Perlukah ia menyahut tangan itu, atau membuka langkah seribu? Sedar-sedar dia sudah berada jauh dari situ, meninggalkan manusia itu termanggu.
Dasar hatinya mencebir, mencemuh wajah-wajah itu. Tangan mereka menyeluk saku, tuli mata mereka, berhijab hati semua saat permata berderai di alur pipi gebu Carldena. Saat Carldena tergantung tidak bertali mereka menghulurkan tali gantung ke leher putihnya. Malah dia dicemuh, dihina, diherdik, dihalau umpama anjing kurap. Kesalahan-kesalahan Tan Sri yang menggunung disandarkan ke atas pundaknya. Api-api dosa miliki darah dagingnya itu, mengalir dalam tunjang darahnya bagai asid yang menghakis. Tiada satu pertolongan pun saat Carldena dilambung kesepian, sehingga dia terdampar di persisiran ini.
Air matanya bersungai lagi. Permukaan matanya terpampang wajah ibunya. Belaiannya terasa bermain-main di rambutnya. Tenang sebentar keresahannya, hilang rasa gementarnya. Hatinya begitu tenang pabila tangan ibunya berada berada di ubun-ubunnya. Tiba-tiba tangan tersebut mencengkam kepalanya, menghentakkannya ke dinding, menampar pipinya, menarik rambutnya. Carldena tersentak. Betapa peritnya hidup perempuan itu disamping seorang ibu bangsa Austria. Namun dia tahu, lebih perit ibunya yang mati dalam kufur tatkala putus asa dengan hidup. Di hadapan mata Carldena sendiri, ibunya bermandi darah yang membuak-buak keluar daripada pergelangan lengan.
Carldena mengurut dada, merayap ke lehernya, kering segersang sahara. Perutnya terus dan terus berlagu. Namun, kedai mana mahu dipinta, pintu mana ingin di ketuk? Pernah digagahkan jua mengemis di tepian hati. Tapi hasilnya, kasih terbang sayang melayang.
Carldena tunduk, menghela nafas sepanjang-panjang yang mampu. Dipaksa kakinya untuk berdiri. Tangannya menekan ke tanah. Belumpun lututnya menegak, kepalanya bagai ditusuk jarum, perutnya mencengkam, tekaknya berpasir, dadanya sesak, akhirnya dia terduduk sendiri, tersandar di dinding yang dilawati lumut. Mengeluh. Sakit ini bukan hakku, perit ini bukan impianku. Tapi siapa tahu?
Tangannya merayap kembali, tetapi terhenti di pangkal leher. Seutas rantai dalam genggamannya, bersulam emas, bertatah berlian. Hadiah sempena hari lahirnya yang ke-16, merangkap parti terakhir dalam hidupnya. Telinganya masih boleh terdengar betapa gemuruhnya tepukan tika tersemat rantai tersebut di lehernya. Ramai yang memuji, Carldena umpama bidadari syurgawi, sekilas pandang terpaut hati. Jelasnya, ramai juga yang terpaksa mengibarkan bendera putih tatkala menyedari bahawa sendiri tidak akan mampu membelai Carldena, putri Akmar Villa yang lahir dalam kepuk emas, ditatang bagai minyak. Carldena tak pernah kecewa dengan hidup. Masakan mungkin pabila segala yang terlintas di hati akan dipenuhi. Kebebasannya tidak terbatas, keseronokannya bagai di firdausi, tapi pengakhirannya sayang anak tangan-tangankan, sayang isteri tinggal-tinggalkan, sayang Carldena…
Mulut kecilnya menguap, matanya ditenyeh beberapa kali. Mengantuk. Carldena cuba menganggar waktu. Mungkin jam lapan malam, mungkin jam 12 malam, atau mungkin sudah melewati jam dua pagi. Buntu. Selama ini, masa bukan ukuran hidupnya. Lapar ke dapur, bosan ke halaman, mengantuk tidur. Semuanya tersedia, kalau terasa kurang, dipinta. Tetapi itu dahulu, antonim kepada saat ini. Masa ibarat pedang, setiap detik yang terlepas, menghirisnya, setiap detik yang sedang dilalui, mengerat-ngeratnya, datik-detik yang mendatang akan memenggalnya.
Dia, hanya mampu menunggu hari esok, menanti matahari riang di atas dan dia mengeliat dengan segunung harapan. Namun, masihkah ada hari esok untuknya? Carldena mengurut-ngurut kakinya. Lenguh. Jemarinya menekan di kawasan keting, melurut turun ke buku lali, kemudian ditolaknya segala keperitan itu ke ibu jari yang kehitaman. Nafasnya dihela panjang. Mencari kelegaan walaupun secebis cuma. Dibersihkan kaki itu, bertaburan pepasir, beterbangan debu-debu yang melekat di kulit licinnya. Pandangannya tertancap pada tapak kaki, kulit sekitar buku lali retak seribu, ditambah pula dengan warna hitam yang melekat padu. Menyesal.
Carldena menolak rambutnya yang jatuh berjuraian di dahi ke belakang telinga. Beberapa helai jatuh kembali ke hadapan. Mengeluh. Lima tahun lagi untuk dia lari daripada masalahnya. Lima tahun lagi, semua harta peninggalan arwah akan menjadi hak milik mutlak Carldena Amira. Tetapi, Carldena sendiri masih was-was tentang hidupnya pada hari esok. Masakan dia mampu bertahan selama lima tahun lagi. Setahun yang dilalui ini pun sungguh memeritkan batinnya. Carldena merenung ke tanah, hujung jarinya melukis sesuatu, sesuatu yang cuba menutup rasa kesal di dadanya. Satu langkah yang tersilap terus mengubah susur-galur hidupnya.
Dia menghitung sendirian, dengan harapan yang menggunung, dia lari dari rumah anak yatim ke kampung. Namun, impaknya, yang dikendong berciciran, yang dikejar tak kesampaian. Bagai musang yang ingin membaham ayam, dia bukan sahaja tidak diendahkan, malah ‘dinasihati’ keluar dari komuniti tersebut. Hiba. Salah akukah membuka langkah seribu? Jika berada di rumah anak yatim bagaikan Cinderella. Terseksa hidupku dengan caci maki yang tersirat dalam kata yang tersurat. Salah akukah, membuka langkah seribu lari daripada sengsara? Carldena bermonolog sendirian, bertanya kepada angin dan jawapannya, kesepian.
Kesepian yang mengajarnya erti keperitan. Kesepian yang benar-benar tak dapat ditampung oleh hatinya. Kesepian yang tak bertepi. Kesepian yang mencengkam entah sampai bila. Mungkin sejam, sehari, sebulan, atau lima tahun lagi, sehingga dia menerima kembali haknya. Hak yang dicuri oleh seorang pembelot. Culas. Benar-benar culas saat nama pembelot itu menorobos mindanya. Kebenciannya memuncak terhadap pembuka segala cerita, pencetus masalah dan penutup kebahagiaannya. Harapkan pagar, pagar makan padi. Kehilangannya bersama-sama dengan segala harta Tan Sri Farizul Akmar, menjadi misteri. Meninggalkan tanggungjawabnya ditelan halaman neraka.
Carldena mengetap bibir. Terkilan sendirian tatkala di matanya seakan tergambar, satu-persatu harta peninggalan Tan Sri dijual, sedikit demi sedikit aset Tan Sri terhakis. Atas alasan mengambil upah penjagaan Carldena, segalanya seperti air. Lancar.
Mengeluh keras. Sekeras guruh mengintai hujan, melepaskan petir yang menyentak jiwa Carldena. Dia jadi tidak keruan. Namun, pada siapa harus dimuntahkan segala-galanya. Kesepian yang mengisi jiwanya berlumuran keluar dari celahan mata. Malam yang menagih simpati mentari, terdiam seketika. Tergumam dengan esakan Carldena yang terngadah di tengah kepiluan, merintih malang yang menjadi satu rentetan yang tak ingin pulang. Dia mula mengintai kembali lunas-lunas yang hilang, mencubit rasa senang, walau sesaat. Tetapi, di situ dia kehilangan definisi kejujuran. Jujur yang membahagiakan dalam setiap titisan air mata, akhirnya jatuh berderai ke bumi tuhan. Hatinya benar-benar berkecamuk. Carldena berkira-kira sendirian tentang hari-hari yang menjadi duri dalam dagingnya. Aku tak sanggup lagi. Dalam kekalutan berfikir, ingatannya megimbau mayat arwah ibunya. Mungkin, ini yang dirasakan ibunya. Mungkin, itu juga jalan yang ada untuk keluar. Mungkin, itu juga yang perlu aku turuti . Akhirnya dia mengungkap rasa manisnya maut, membuka alis kekayangan, mengerakkan tangan mencapai kaca yang terngadah, tergugah, semakin hampir dan hampir dengan urat nadinya.”
PENCERITA
Bakar meneguk liur. Lambat, namun sekurang-kurangnya dapat meredakan peluh yang berantai di dahinya. Satu keluhan menghentikan sebuah cerita yang gamat panjang.
“Carldena, selamatkah dia?”
Bakar mengangguk perlahan, “Kau percayakan keajaiban?”
Tercengang, “Keajaiban, yang bagaimana? Kalau dari sudut yang agak logik, percayalah juga.”
Bakar tersenyum sejurus selepas aku menutup bibir. Senyuman itu seraya merebak menjadi suatu gelak sinis, persis orang gila. “Malam itu, tangannya terkulai layu, darah pekat deras mengalir ke pehanya. Nafasnya pendek, agak keras bunyinya. Carldena terkapar genting, kelemasan dalam lautan eritrosit sendiri. Cebisan masa itu, muncul seorang lelaki mencapai tangannya, mendukung tubuh kecilnya, lalu di bawa entah ke mana. Carldena bingung. Malaikatkah yang sanggup datang menujah masa untuk menarik kembali rohku yang hampir hilang? Dalam kekalutan itu akhirnya dia kegelapan.
Pintu cermin setinggi tiga meter itu terkuak luas diiringi dengan derapan kaki seorang lelaki. Di tangannya, terkulai seorang perempuan dengan titisan darah yang makin perlahan. Kurang daripada lima minit, Carldena sudah berada di dalam bilik kecemasan.
Lelaki itu, bukanlah orang asing bagi Carldena, bukan juga orang yang rapat dengannya. Malahan jika Carldena bertembung dengannya, perempuan mungil ini akan berpaling pantas. Benci. Benci atas senua kehancuran yang dilakukannya, benci atas kehilangan harta Tan Sri. Dalam kebencian itu, tiba- tiba sahaja dia kembali memberikan nafas baru kepada Carldena. Namun mengapa dimensinya sekarang? Mengapa baru kini hendak ditutup aibnya? Setelah Carldena kehilangan segala-galanya, setelah Carldena hampa dengan hidupnya sendiri. Mengapa baru sekarang?
Lelaki itu tegar berdiri tegak dihadapan kerusi, disaluti baju yang lencun dengan darah. Sesal. Terlalu lewat ketibaannya untuk mengelakkan kecelakaan ini. Salah sendiri, balasan sampai mati. Dia gamat resah, sehinggakan peluh mendominasi badannya.”
Bakar diam sekali lagi. Mulutnya menghirup perlahan kopi yang rasa-rasanya sudah lama sejuk. Di luar restoran terdengar sayup-sayup hujan yang semakin lebat, mengisi kekosongan perbualan kami. Masing-masing menanti, masing-masing menyepi. Hampir seminit kami terkandas sebelum aku membuka persoalan semula. “Siapa sebenarnya lelaki itu? Apa kaitannya dengan Carldena?”
Bakar merenung aku, agak tajam pandanganya, sedikit sinis senyumannya. “Satu-satunya penjaga harta Tan Sri yang bakal diperolehi oleh Carldena.”
Wajahku serta-merta berubah searus dengan persoalan yang terbias diminda.
“Ringgit Malaysia 150 juta aset Tan Sri yang berdaftar berada bawah jagaannya. Belum lagi ditokok dengan syer-syer saham yang kekal menjadi kepunyaan Carldena. Kalau diumpamakan, seperti pepasir di pantai. Namun pepasir yang bersinar itu sekelip mata ditelan ombak.
Sebelum ibu Carldena pulang ke taman neraka, satu wasiat telah ditulis. Ringgit Malaysia setengah juta dikhaskan untuk setiausaha peribadi keluarganya (lelaki yang menyelamatkan Carldena). Juga harta yang lebihnya, yang jutaan lagi, akan menjadi harta peninggalan, dan serta merta mengikut faraid, jatuh ke telapak kecil anak tunggalnya, Carldena. Namun sebelum Carldena mencecah kematangan minda perempuannya, dia, bersama-sama hartanya akan berada di bawah telunjuk lelaki itu. Surat penentu hidup itu ditandatangani tepat sejam sebelum Carldena ditemui di sisi mayat ibunya.
Tahun itu ibarat tahun dukacita untuk Carldena, kematian ketiga-tiga ibu, bapa dan neneknya dalam jangka masa 12 bulan. Perubahan pada sikap Carldena memberi impak yang gila kepada lelaki itu. Carldena hanya duduk dan termenung, otaknya kosong. Melainkan lelaki itu, tiada lagi tempat untuk Carldena bersandar. Semua saudara-maranya, awal-awal lagi tidak mengakui Carldena sebagai keturunan mereka. Untuk menyelamatkan dirinya daripada terus dihantui kemurungan perempuan sugul ini, lelaki itu membuka langkah ke rumah anak yatim. Datangnya dengan tipu helah dan alasan, pulangnya keseorangan berpaling meninggalkan beban yang menjengkelkan hatinya.
Saat dia keseorangan diulit harta milik Carldena, perempuan itu gugup dengan definisi hidup yang baru. Keresahan Carldena sesaat pun tidak dihiraukan. Kepentingannya dalam hidup ini hanya untuk menggapai bintang. Satu demi satu harta Carldena lebur ditabur di atas meja judi. Kalah ditambah, menang sakan berjoli. Saat itu kepuk Carldena tak pernah surut kerana saham atas nama Carldena masih gah di syarikat. Setiap saat, wang yang ada akan bercambah, namun, belum pun pucuknya matang, lelaki itu akan mencantasnya dulu. Sehinggalah saat syarikat itu lingkup. Lelaki itu kekalutan, hutang-piutangnya pula semakin membukit, poketnya kering. Jalan pintas, dia menjual hampir semua aset Carldena untuk menyelamatkan dirinya daripada dikejar pemiutang.
Lelaki itu celik mimpinya dalam ketakutan klimaks. Di situ dia menoleh, lalu gugup, gigil sendirian. Tiada lagi kemewahan yang mengulitinya dahulu. Habis manis, sepah pun jadilah. Hanya itu sahaja yang tinggal untuk Carldena. Carldena? Carldena!
Lelaki itu, tiba di rumah persinggahan Carldena dengan penuh keinsafan, berharap agar segala dosa tercuci. Namun di situ perjalanannya bermula. Dia belum melangkah masuk tetapi sudah disambut dengan berita ralat. Carldena hilang seraya menggemparkan seluruh penghuni. Jiwa lelaki itu tergugah.
Dia memerah otak mencari haluan Carldena. Hanya satu tempat yang mungkin. Pantas dia sonsong egonya pulang ke kampong Tan Sri. Sekali lagi dia dipermainkan dengan masa. Dikisahkan Carldena telah berlalu, tak siapa endah tujuannya. Lelaki itu dengan semangat yang bergantang, terus mencari galur yang Carldena jejaki. Buntu.
Sehinggalah pada suatu malam. Saat dia pulang dari sebuah gerai, matanya tertancap pada sesusuk tubuh yang duduk diam di suatu lorong kelam. Persis pengemis jalanan. Agak lama dia mencari keyakinan sebelum menyentuh bahu Carldena. Perempuan itu menoleh dan sepantas kilat dia hilang lintang-pukang. Lelaki itu sedikit kecewa. Sekurang-kurangnya semangatnya untuk mencari Carldena becambah kembali. Peluang kali kedua tidak mungkin terlepas lagi. Langkahannya gamat laju namun agak lambat tatkala bejumpa kembali dengan Carldena. Darah membasahi perempuan mungil ini.”
EPILOG
Bakar berhenti berbicara, menarik nafas panjang. Sementara aku menutup buku nota yang mengutip setiap bait daripada mulut Bakar. Cerita itu akhirnya tamat jua, namun aku masih dihujani persoalan. “Carldena, selepas kejadian itu…”
“Terlantar,” Bakar seakan-akan dapat membaca fikiranku.
“Maksudnya, Carldena..”
“Nabilla,” Bakar sekali lagi menjadikan aku cemas. “Nabilla nama barunya. Dia terlantar agak lama sebelum berjaya memeluki segala yang patut dikecapinya. Ah! Melainkan jika kamu ingin menulis sejilid lagi buku, aku sanggup menceritakannya. Namun sekarang aku keletihan. Izinkan aku berlalu. Selamat bejumpa lagi.”
Aku mengangguk faham. Kemudian kami membuka haluan masing-masing selepas berjabat tangan. Saat aku berdiri menunggu teksi, sambil menunggu hujan yang lebat ini teduh, terlintas di fikiran aku. Bagaimana bakar mengetahui setiap inti hidup Carldena atau… Nabilla? Siapa Bakar sebenarnya? Entah mengapa, aku tidak terfikir untuk bertanya. Menoleh, bayangan Bakar sudah tiada dalam kedai kopi tadi. Tidak mengapalah, sekurang-kurangnya sudah aku ada isi untuk ditulis pada majalah keluaran minggu hadapan. Sebuah teksi berhenti di hadapanku. Pabila teksi itu mula bergerak, di seberang jalan, aku lihat seorang lelaki meredah hujan ke arah seorang perempuan yang memegang payung. Baju lelaki itu, macam baju yang dipakai Bakar tadi. Mungkinkah…
Labels: cerpen
Tiga mangkuk tembaga tersusun dalam formasi segi tiga. Tiap satunya terisi penuh. Bau kemenyan hutan menyelimuti segenap bahagian dalam ruang yang serba malap itu. Ditengah-tengah segi tiga itu, menyala sebatang lilin kuning, disebelah tapak kemenyan.
“Kau betul-betul mahu lakukan ini?” Mak Jah bersimpuh, mulutnya terkumat kamit mengunyah sireh. Jarinya menuding ke hadapan, lantas menyala sebatang lagi lilin kuning. Azil tersentap, cahaya dari lilin membuatkan matanya sedikit berpinar. Mukanya diangkat ke arah Mak Jah.
“Tiga dari tujuh janji dah kau penuhi.” Mak Jah meludahkan sirehnya ke daun kering di sisinya. “Kalau kau rasa keberatan. Boleh lagi berpaling sekarang.
Azil mengesat peluh pada dahinya. Mukanya berkerut seribu.
“Tapi ingat,” Mak Jah pandang tepat pada anak mata Azil. “ Yang dah terkorban, tak bisa dipulangkan. Ini janji dua alam.”
Azil mengusap mukanya, “ Susah mana pun, aku tak peduli. Aku dah bawakan kau tiga benda yang kau mahu. Kita selesaikan apa yang sudah termula.” Suaranya sedikit menggeletar. Dalam fikirannya, terbayang wajah Kencana anak kacukan jawa dan melaka, susuk badannya, dadanya, pinggulnya, dan yang paling tak akan dia lupakan, jari jemari perempuan itu. Bagai terasa lagi pelempang dari jari jemari itu. Sudahlah dilempang dekat tengah-tengah pekan. Malu. Geram. Sebab geram, berseru dendam, dia nekad, merentas tujuh bukit. Sebelum ini, dia ambil enteng tentang Mak Jah. Malah Mak Jah hanyalah dongengan untuk menakutkan anak kecil dari masuk ke hutan. Kali ini, dikuatkan untuk mencari. Diikhtiarkan bertanya kepada orang-orang yang kononnya pernah terserempak dengan Mak Jah ketika berburu. Dari situlah dia mula mencari perempuan tua ini.
“Jikalau itu yang kau katakan. Aku anggap kita sudah jumpa tali pengikatnya. Dengar betul-betul empat lagi janji dari tujuh, yang harus kau penuhi.”
Azil mengangguk perlahan.
“Satu, jangan tinggalkan bekas air sumpahan ini kosong, ia tidak akan betambah sendiri. Tambahi dengan darah kamu pada malam bulan penuh sahaja. Dua, jangan biarkan wanita yang kamu tiduri bertanda tubuhnya. Dia tidak akan mengingati apa yang telah kamu lakukan selagi badannya bersih dari apa-apa tanda. Tiga, jangan bunuh mangsa kamu.”
[ Bunuh?] Azil mengomel kecil dalam hatinya. Serta merta Mak Jah memandang tepat matanya. Meremang tengkuk. Lilin dihadapannya juga menjadi semakin cerah, menerangi seluruh wajahnya.
“Kalau terpaksa dibunuh, pastikan darah dan nafas bercampur. Pastikan dengan pisau perak Rajawali. Tentu-tentu dia akan mati, dan kalau nasib kamu turut melintang, kamu juga akan terbunuh.” Mak Jah mengukir seuatu dengan gumpalan asap kemenyan dihadapannya. “Ini bentuk pisau perak Rajawali, hujung sungai tempat Hang Tuah kuburkan Tamingsari, ada lubuk berpusar dua. Pisau terpacak di tengah-tengah pusaran. Jangan pernah cabut Tamingsari, atau nyawa kamu yang tercabut.” Mak Jah meniup asap yang berbentuk pisau sebentar tadi. “Faham?”
Azil terbatuk-batuk kecil dek asap kemenyan menerjah hidungnya. “Faham.”
Mak Jah tersenyum. Tangannya menarik dekat tapak kemenyan. Kakinya bersila dengan kemas. Bibirnya mula membaca sesuatu. Kemudian, dengan kedua-dua tapak tangannya, dia menutup bara kemnyan tadi, namun api makin menyala, malah tangan Mak Jah sendiri yang mengeluarkan nyalaan api. Azil terpaku. Tiga piring tembaga tadi bergerak dengan sendiri ke arah Mak Jah. Sampai sahaja piring-piring tadi ke tengah, terus terpadam semua lilin yang bernyala, juga api kemenyan. Gelap gelita. Azil mengesat-ngesat matanya. Senyap. Mak Jah ghaib.
Dari pawang kampung sebelah, dia belajar cara-cara menyeru Mak Jah. Tujuh hari bertapa dalam gua yang jauhnya tujuh bukit dari rumahnya. Berpantang makan minum. Malah, tiga hari terakhir dia berpuasa. Dalam keadaan hampir-hampir dia pengsan, juga mula terasa ingin berputus asa, seseorang mencuit bahunya, bila dia berpaling, berdiri Mak Jah dengan muka yang retak seribu. Hampir-hampir dia pengsan. Dipendekkan, apabila dia nyatakan hajatnya, Mak Jah lebih dahulu meminta tiga syarat awal.
Labels: cerpen
Hujung pisau perak betul-betul terhala atas tengkuknya. Dalam keadaan tangannya terpulas ke belakang badan, dia langsung tak terdaya melakukan apa-apa. Kaku, namun tetap bergagah untuk melawan.
“Kau tak kan mampu bunuh aku, Ros. Ko nak cucuk pisau pun lembab” peluh makin lebat. Lencun belakang bajunya. Sedondon dengan hujan yang makin lebat dan lebat. Habis sahaja perkataannya, pisau itu menusuk satu inci ke dalam kulitnya. Terpancut darah pekat. Laju mengalir bersama peluh-peluh yang sedia basah.
“Macam tu je? Dalam tu je? Takat nak main-main buat pe. Bunuh je ah aku Ros! Bunuh!”
Hujung pisau bergerak lagi. Ke kiri, bunyi hirisan mengatasi rintik-rintik hujan yang berlagu pada atap zink. Dengan pisau yang tumpul, gerakan yang perlahan, Azil hanya mampu mengetap bibir. Ngilu. Terasa macam hendak terkeluar biji mata. Empat inci pisau perak itu memotong kulit jantannya. Empat inci darah mencurah-curah. Azil mencungap.
“Takat tu. Macam sakit potong ko..erk..” Tersentap. Belum sempat dihabiskan perkataan terakhir, pisau tadi sudah tertanam dalam bahunya. “Sial ko!” belakang badannya ditajak. Betul-betul kuat sampaikan badan yang sebesar itu terpelanting lima meter sebelum tergolek atas lantai kayu jati. Azil tergolek ke tepi dinding. Atas dinding yang sama, mayat ayahnya tanpa tangan, tertancap di situ. Kepalanya terkulai, leher terpenggal separuh.
“Cabut pisau tu.” Suara garau perempuan memecah bunyi-bunyi hujan. “Dah bosan dengan darah keturunan kau. Tanggalkan pisau tu, lawan dengan aku.” Ros melangkah ke arah badan Azil. “Aku kata cabut, jantan!” Langkah Ros terhenti di hujung kaki Azil. Geram. Dipijaknya ibu jari lelaki itu.
“Babi! Kau nak ape lagi? Kau tak puas lagi ke?” Azil menahan pedih. “Bunuh je ah aku!” Terbersin. Darah kecil mengalir di tepi bibirnya.
Jari jemari Ros mengesat bibirnya. “Cantik bibir kau kan Azil.” . Ros mencangkung, tapak kakinya memijak kedua-dua lutut Azil. Muka lelaki itu makin tegang. Ros merapatkan wajahnya ke muka Azil. Sampaikan terasa nafas Azil tercungap-cungap. Mata mereka terikat, Azil kaku, nafasnya seakan-akan hilang. Bibir Ros makin rapat ke bibir Azil. Kelopak matanya kuyu. Tangan azil mendekati pipi Ros. Dia seakan-akan merelakan. Makin rapat, rapat, dan “Aaargh!” timbul urat-urat pada muka Azil.
Dia tunduk, lutut Ros, menekan kemaluannya. Azil menolak badan perempuan itu. Petir sabung-menyabung. Namun masih kalah dengan jeritan Azil.
Ros tergelak besar. Lututnya makin menekan kebawah. “ Bodoh, nak mampos pun, ada nafsu lagi nak aku? Memang bodoh.bodoh nak mampos!” tersenyum sinis. “Amek nih,” air liur Ros singgah tepat atas muka Azil. “Cabut pisau tu. Pisau perak Rajawali konon. Jangan berangan nak pakai kalau hati tak kering.”
Azil diam. Yang terdengar hanya nafasnya yang makin mencungap. Ros mengangkat lututnya. Berpaling kegeraman. Dia membaca sesuatu dan menghembus ke sekeliling ruang tamu itu. Serta merta semua pelita ternyala api. Mencerahkan suasana yang kelam tadi. Matanya menjeling Azil. [ Degil betul jantan ni.] Ros meletakkan tangannya di dada kanan Azil. Terasa tolakan jantung Azil, kencang. Mulutnya terkumat kamit membaca sesuatu.
Aku pinta turun dari langit tujuh meruntuh,
Pinta ke tanah bawa tujuh petala dari tujuh hala,
Dari hulu ke hilir, dari pangkal ke hujung, dari mula ke akhir,
Pinta di bawa kunci dari ribu-ribu kunci,
Pinta di bawa jarum dari tujuh tujuh jenis darah,
Meruntuh ke tujuh tanah bumi,
Kuncikan pintu hati ini, dengan kunci dari ribu-ribu kunci
Ros menggenggam jari jemarinya, mulutnya masih terkumat kamit menghabiskan ayat-ayat yang entah apa maksudnya. Saat itu mata Azil terjegil, jauh dalam badannya, bagai ada jari jemari yang bermain dengan jantungnya. Pedih.
“Kau yang cari aku kan, kau ingat kau mampu buat aku macam perempuan lain?” tangan Ros tergenggam penuh. Pinta di pinjam jarum dari tujuh arah, aku gantikan dengan nafas sang perawan. Darah tersembur keluar dari mulut Azil. Azil mencungap, nafasnya tersekat, dadanya sesak. Ros tergelak kecil. Di belakangnya, ada tujuh bayangan lelaki. Azil terdesak, saat ini, hanya satu perkara sahaja yang mampu dia lakukan. Sedaya upaya dia menyilangkan jari telunjuk pada jari hantu nya
Labels: cerpen
i loVe yoU forever...last n ever..
wiTh moOn liGht shadOw my pRopose..
and The wiNd as mY woRd..
i`ll gIve yOU the beaUtiFuLL raInboW as my rIng..
acCept me..hoNEy..
as One oF uR fInger to fEeel ur tOUch...
as oNE of uR haiR to hanGing WitH u ALwaYS..
aS oNE oF uR BeAr..To slEep wiTH yOu everyniGHt..
as oNE of uR bONe..tO sticK wiTH yOU foRever...
aS oNe oF uR cloTHes tO hug uR bODy evErysecoNd.
...and lEt me be oNE of uRs...forevEr... toNIght...
Labels: poem / quote
sialan..untuk senyum pun aku menggugah..
bosan dengan angin..
.....tak menyelesakan hanya melemaskan
bosan dengan orang-orang ini..
.....tak membantu hanya membatu
bosan dengan masalah...
.....tak terselesai hanya tersarang..
bosan dengan katil..
.....tak melenakan hanya menggilakan..
bosan dengan mimpi...
.....tak indah hanya ngeri..
sialan...untuk tangis pun aku terseksa...
bosan dengan duit...
.....makin hilang dan hilang
bosan dengan sakit..
.....makin bisa dan bisa...
bosan dengan waktu...
.....makin sempit dan sempit..
bosan dengan suhu..
.....makin hangat dan hangat..
bosan dengan berat..
.....makin ringan dan ringan...
sialan..untuk bosan pun aku cukup bosan..
bosan dengan si bosan...
.....datang tapi tak berhenti...
bosan dengan kamu..
.....baca tapi tak mengerti....
bosan dengan hari ini...
.....esok dan semalam....
Labels: puisi
remember this day,
last meet on feet,
cry on a bad beat,
wish,
you never loose in my hug,
keep tight,
and keep ur lips wet when been kissed,
hope,
to see you next around,
when we are drowning in missing each other,
struggle to swim,
and keep love breathing,
every night,
when you are sleeping,
I`ll fly to your bed,
and warm you,
kiss ur cheeks,
play u hair,
love u my dear,
Labels: poem / quote
dari tenggara..
aku carik-carik dalam diri..
jumpa satu kata kunci..
`Pergi dari sini..`
MERAPIK!
ini bukan kata kunci..
ini kunci hati..
kunci terus mati..
dari tenggara..
aku selak-selak kamus tenang..
terjah satu ruang..
`Pergi jangan pulang`
GILA!
ini bukan ruang tenang..
ini vakum kecundang..
kecundang habis terbuang..
dari tenggara..
aku tinjau-tinjau jendela cinta..
singgah satu bait kata..
`Pergilah dengan segera`
GERAM!
ini bukan jendela cinta..
ini tingkap gila..
gila semua rasa...
dari tenggara..
aku tatap semua dinding..
dalam waktu kian kering..
detik kian genting...
ruang kian hening...
rasa kian bening..
mata lelap, tak terbaring..
badan tersiram, masih kering..
dari tenggara..
wajah-wajah terus suram..
kening-kening makin curam..
kondusi tenang macam syurga..
badai dalam..gegak gempita..
rosak binasa..macam neraka..
masing-masing mencuka..
semua diam berduka..
dari tenggara...
kaki langkah pergi...
dengan lagu iringi
sekumpulan orkestra air mata..
muziknya sedu...
iramanya luka...
nyanyian rindu..
rentak yang tiada..
pendengarnya....kaku
aku pergi..
dari tenggara..
dengan tiga titis di mata
satu untuk hari ini..jadi simpanan..
satu untuk semalam..jadi kenangan..
satu untuk esok..jadi pedoman..
jangan tersejat dalam genggaman
Labels: puisi
satU titIS...uNtuK harI iNi....BAwa pUlang...
satU tItIs...UntUk semAlaM..siMpan bUAt kenanGAn...
satU tItIS.. uNtuK esoK... jaDi siMPAnan..
Ada TiGa tItIs esOk harI...
duA tiTis kenanGAN..satU tItis BAwa pULAng..
eSOk... jGAn hILAng kaN....tItIs harI iNi..bUKAn yANG semALaM..
esOK...jAngAN tiNGgaLkan...tAKut tErlUPA manA siMPannYA...
esOK...jAGa sePEnuHNya...uNTuK nAMpak tItis semalAM moLEknya...
esOK uNTuK semalaM....
-hadapi esok walau apa berlaku semalam... esok yang tentukan semalam..bukan semalam meruntuhkan esok...esok langkah dengan berani..walau sakit semalam masih tersisa-
esok exam..doakan
Labels: puisi
keEp siLEnce...
till tHe raIn stOp...
kEep siLence...
tIll yOu slEpt...
kEeP siLEnce...
tIll yOu fiNalLY rEAlisE...
rEaliSe..yOu shOuln`t bE heRe...
lAy oN mY bed...KeeP eyEs clOSe...
JUst pLEaSE gO aWay...
rEAlISE...you shOuln`t bE thEre....
InsIDe n DeEp hEre...keeP liNggEr In mY hEart...
Just pleaSe KeeP aWay...
thE raIn...
NoT TalKIng To mE....
nOr To leT yOu hUggIng mE..
tOUcH mE lIke a bAby...
LicK mE lIke StRAwbErRY...
dOn`t ever play lOve WitH me...
YoU wEre jUST fAt smElLY pIgGY...
tHe RAin...wIlL stOp.. 
anD..I wIll nOr lOngEr sIlenCe...
Labels: poem / quote
Copyright 2009 - oOopPpSsS