pelarian

Aku ini, adalah orang yang berlari
dari riuh rendah, hiruk pikuk,
resah gelisah dan sesak sibuk dunia
maka aku berlari.

Aku ini, adalah orang yang mencari
dari sedikit ruang, secubit lega,
sekelumit tenang, dan setitis privasi
untuk aku bebas berlari

Aku ini adalah orang yang pergi
jauh mahu aku pergi,
dari dekap kerja, cumbu pena
tindih-tindih jemputan di facebook
maka aku pergi, berlari, mencari
hidup aku sendiri.

Namun, nun jauh aku mencari
yang terjumpa adalah sekumpulan orang
yang turut sama berlari,
seperti aku, berlari mencari sesuatu.

Mereka ini berlari ke arah riuh rendah peluru
hiruk pikuk mortar, sesak sibuk peperangan
ke arah peluru berpandu, bom berantai,
derap mesingan, sepak terajang dan rantai kereta kebal,

hanya untuk mencari mati.

Mereka mencari janji Tuhan
dalam setiap jatuh titis darah
mencari bantuan tangan malaikat
moga turun bersama doa,
mencari syurga dalam rebah bata rumah.

Inilah, anak-anak yang kematian orang tua
bayi keputusan susu ibu,
balu di sisi mayat suami,

inilah 4.62 juta pelarian Palestin
pergi dari nama Mujahid,
berlari ke syurga jauh,
mencari syahid.

Waktu mataku berkelip melihat mereka,
aku tahu, aku ini cuma berlari pergi dari sia-sia
menuju ke mimpi kosong.

apunpital
18/7/10
jalan-jalan Melaka/precint 4 putrajaya
dibacakan sempena Hari Puisi dan Lagu, Lorong Seni

Jalan ke rumah besar

Jalan itu adalah susunan kerikil dan pasir
dari lombong haram dan kuari rasuah.

Jalan itu adalah garisan yang dibentuk
dengan membakar gelandangan di bawah matahari
menyiram hujan ribut
menoreh lecet ke kulit kering mereka.
luka dan darah keterpaksaan menyiram
tar ke atas jalan menuju ke rumah besar.

Jalan itu diturap dengan lengan-lengan belum bergaji
dengan lemah longlai dari ATP beras nan sebiji
mereka tutup rasa prejudis mereka
dengan garisan putih terakhir (dan caci maki),
jalan untuk kereta besar, ke rumah besar
yang akhirnya, membayar harga mereka
dengan laporan polis dan RELA,
"pendatang haram tanpa izin."

apunpital
melaka-pokok mangga
awal julai

mungkin sampai besok

Mungkin sampai besok saja
sisa sawah yang kontang bakal aku bajak
dengan lembu tua yang kau pegang.

kemudian aku semaikan biji benih memori
moga subur, dan tegap tinggi
sampai satu waktu berbuah
bakal aku siapkan sebekas
untuk kau,

moga kemudian, jadi subur
dan tegap tinggi dalam lilit ingatan.

atau, entah, mungkin saja akan mati
entah tak mampu berdiri lama
entah kelak ditabrak mesin baru,
dan hilang.

Maka biar aku sendiri nanti ada waktu
membisikkan ke telinga itu
dan kau sendiri menulisnya
ke dalam lembar-lembar ingatan
yang lusuh dan dijamah lupa,

tentang pertemuan dalam petak
penuh lumpur, kubang lembu dan parit tua,
tentang kita yang pernah sama
meraih hujan dari telapak doa
dan menjamah haruan dari bendang tua.

Kerna, mungkinsampai besok saja, aku tersisa
untuk terakhir melihat engkau melilit tali
pada kelikir,
dan hari ini, dengarkan,
Semacam itulah aku tertambat
antara kamu dan waktu.

dan mungkin lusa, aku bakal pergi
sebelum sempat dilampai liuk lentok
hijau dan kuning padi,
juga sebelum engkau dikejut beduk subuh.

apunpital
5:39pm
6/7/10
melaka-pokok mangga

Karya terpelihara