Dalam stesen lama yang penuh debu
masih terlihat pegang tanganmu, terlepas
mana lebih jauh dari satu gerabak
yang kita sama pernah berdua.
Kamu, yang datang dalam subuh hujan rintik
meminta enjin sebentar berhenti di sini
untuk sekeping gambar waktu mentari memanjat,
masakan waktu gelincir terang
meminta untuk berlalu dahulu?
Pada esak sedang berjalan dari jendela kaca
pada sedu yang sedang menangisi waktu yang tenggelam
terlihatkah kamu?
Tentang sekeping filem hitam
di mana kita beradu memoir tadi siang.
Atau telah hanyut jauh dengan asap hitam pada serombong gelap
tadi ?
Terdengarkah? Bunyi gerak getar besi dan kerusi saat kamu
lafazkan kata paling agung waktu itu?
atau memoir itu sama pergi jauh,
dengan bunyi gesel rel karat.
stesen
Labels: koleksi puisi cinta katak , puisi
?
ketika aku pejam dan segalanya penuh luka dan gerigi
bakalkah kau datang dan bawa aku keluar dari kalut ini?
Saat aku tenggelam dan segala nafas telah pergi,
mungkinkah kau tiba dan dakapku ke permukaan kembali ?
Labels: ayat , koleksi puisi cinta katak
pinokio
Kalau benar dunia ini pentas
kaki ini lebih senang menjadi penonton
melingkar pada peha dan sekali-sekala
sibuk menghentak lantai kegilaan.
Senang mengikut lagu, yang sepatutnya
menyelimut ruang kosong pada tangsi.
Menarilah, aku suka lagi menjadi lukisan rumput
bila waktunya kuning maka kuninglah.
Tali ini bilakan mahu putus? ; Melepaskan aku pergi
dari beban skripsi dan literasi bohong.
Bukan kaki si penonton, atau lukisan rumput
aku tetap si pinokio kayu kalut dan berhayun.
Kenallah, Pinokio si boneka serba ribut
pelakun atas pentas serba kecil ; muka serba mungil,
dan malam ini aku akan minta bidadari
datang tukarkan nyawa ini dengan jantung
maka esok akanku tahu, rasanya tanpa tali.
klise
Kisah cinta kita adalah lagu yang selalu ada pada corong radio
malah kedengaran seakan mahligai itu masih utuh
dan kita, sibuk menari di dalamnya dengan iringan lagu paling lunak
setiap langkah bertaut atas lantai istana dari seramik parsi.
Kasut kaca own-made pada kaki mulusmu sekalipun tak
tercapai gaun baldu china yang melepasi tumit tinggi sadur emas.
Indahnya, sampai terlupa kita hanya berdua sedang berpaut
bila jam itu tegak ke atas, tangan kita makin gigil
waktu itu, bila bibir kita mahu berpaut dengan rona cinta
kau lari pergi jauh.
Jam 12, mimpi klise paling tak aku pernah mahu.
apunpital
5:33- 21 julai 2008
kazamidori
Labels: koleksi puisi cinta katak , puisi
aku
Kalau orang tanyakan kenapa aku diam
akan aku senyumkan,
telah lupa aku apa untungnya bicara.
Di sana tujuh jalan ke langit
terpagar dengan awan gelap
tapi polos, rompong dan punah.
Aku nampak nombor berterbangan
dalam rangka yang dungu.
Labels: ayat




